Rabu, 31 Oktober 2012

Abdurrahman bin Auf


Pada awal kehidupan di Madinah, Rasulullah sudah memulai untuk membangun sebuah persaudaraan abadi yang lepas dari ikatan-ikatan perbedaan kaya miskin, tua muda atau bahkan pertalian darah.  Sebuah persaudaraan yang dibangun dan dipersatukan oleh akidah Islamiyah.  Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya.  Beliau mempersaudarakan seorang Anshar dengan seorang Muhajirin.  Bilal dengan Abu Ruwaihah.  Abu Bakar dengan Kharija bin Zaid, Umar dengan Itsban bin Malik.  Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’.  Dalam persaudaraan ini keduanya memiliki hak dan kewajiban untuk saling membantu dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan takwa.
Setelah dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’, Abdurrahman bin Auf sangat gembira sekali.  Sa’ad adalah orang paling kaya di Madinah.  Kebun kurmanya sangat luas.  Berton-ton gandum setiap bulan dipanen dari tanah garapannya.  Belum lagi unta dan domba yang dipeliharanya.  Jumlahnya ribuan ekor.  Dan seluruh hartanya itu ingin dibagi dua dengan saudara muhajirinnya, Abdurrahman bin Auf.  Bahkan Sa’ad menawarkan salah satu istrinya untuk diperistri oleh Abdurrahman.  Sa’ad akan menceraikan salah satu istrinya untuk dapat diperistri oleh Abdurrahman.
Betapa beruntungnya Ibnu Auf.  Ia datang dari Mekkah ke Madinah tanpa membawa barang-barang berharga sedikitpun.  Belum genap satu minggu ia berada di Madinah, ia sudah ditawari pembagian harta yang sangat banyak.  Bahkan ia bisa memilih salah satu dari dua orang istri Sa’ad.  Tapi menerima pemberian tanpa jerih payah bukan lah watak seorang muslim bernama Abdurrahman bin Auf.  Ia lebih suka diberi kail daripada harus terus menerus disuapi ikan.
“Terima kasih saudaraku.  Aku menghormati keputusanmu untuk membagi dua harta milikmu.  Semoga Allah memberkahimu.  Tapi aku tidak bisa menerimanya.  Rasulullah mengajarkan ku untuk selalu hidup di atas kekuatan kaki ku sendiri.  Sekarang aku hanya ingin kau mengantarkanku ke pasar.  Aku akan berdagang,”  kata Abdurrahman dengan santun.    Kemudian Sa’ad mengantar Abdurrahman ke pasar Bani Qainuqa, pasar terbesar di kota Madinah.  Pasar itu didominasi oleh para pedagang Yahudi.  Sementara penduduk Madinah yang mayoritas muslim masih menjadi pembeli yang setia.  Jarang sekali ada kaum Anshar yang berdagang di pasar Qainuqa. 
Semua barang kebutuhan sehari-hari di jual oleh para pedagang Yahudi di sana.  Bahkan sebelum Islam menyebar di kalangan penduduk Madinah, perdagangan budak juga cukup marak.  Setelah penduduk Madinah banyak yang memeluk Islam, budak bukanlah mata dagangan yang menghasilkan banyak keuntungan. Selain itu, praktek  pelacuran dan budaya mabuk-mabukan adalah sebuah kebiasaan yang sudah demikian menyatu dengan kehidupan penduduk Madinah, sebelum Islam berkembang.  Perjudian juga sudah menjadi aktivitas rutin di pasar itu.  Segala hal bisa dijadikan bahan taruhan.  Ada judi sabung ayam.  Ada pertaruhan menentukan hasil pertandingan adu gulat.
Para penduduk muslim Madinah yang semula mempekerjakan budak, sedikit-demi sedikit membebaskan para budaknya.   Budak-budak yang diperdagangkan menjadi tidak laku.  Sebagian besar akhirnya dibebaskan oleh orang-orang yang semula berniat menjualnya.  Hal ini dilakukan karena mereka tidak kuasa lagi menanggung biaya hidup para budak itu.  Praktek perjudian, pelacuran dan mabuk-mabukan sudah ditinggalkan oleh sebagian besar masyarakat muslim di Madinah.  Hanya orang-orang Yahudi saja yang masih melakukannya.  Itu pun dilakukan oleh kalangan mereka sendiri dengan sembunyi-sembunyi.
Dengan pengalaman dagangnya yang cukup banyak, Abdurrahman mulai melakukan pengamatan.  Dan terbukti naluri dagangnya cukup kuat.  Dengan modal pinjaman dari saudara Ansharnya, Sa’ad bin Rabi’, ia memulai usaha dagangnya.  Semula ia hanya menyewa sebuah kios kecil milik seorang pedagang Yahudi, dan usaha itu dijalaninya bersama satu orang karyawan.  Ia mulai dengan berdagang keju dan mentega.
Belum sampai setahun, ia sudah bisa mengembalikan modal milik Sa’ad.   Bahkan ia juga menyewa beberapa kios di sekitarnya.   Jumlah karyawannya sudah bertambah.  Barang-barang dagangannya pun semakin beragam.  Dari bahan makanan sehari-hari dan bahan pakaian yang murah harganya sampai ke perhiasan yang sangat mahal.  Dan semuanya menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit. 

Holic A. Khaliq
owner HB Enterprise


0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons
//*[@id="myGallery"]/a[1]