Sabtu, 04 Mei 2013





Jumat, 04 Januari 2013

Biografi Raymond Kroc - Pendiri McDonald’s


Biografi Raymond Kroc - Pendiri McDonald’s

Dalam apa yang seharusnya menjadi tahun emasnya, Raymond Kroc, pendiri dan pembangun McDonald’s Corporation, membuktikan dirinya sebagai seorang pelopor industri yang tidak kalah kemampuannya dengan Henry Ford. Dia merevolusikan industri restoran dengan memberlakukan disiplin atas produksi hamburger, kentang goreng, dan susu kocok. Dengan mengembangkan sistem operasi dan antaran yang maju, dia memastikan bahwa kentang goreng yang dibeli oleh pelanggan di Topeka akan sama dengan yang dibeli di New York City. Konsistensi seperti ini menjadikan McDonald’s nama mereka yang mendefinisikan fast food Amerika.
Pada tahun 1960, terdapat lebih dari 200 saluran McDonald’s di seluruh Amerika, perluasan cepat yang dikobarkan oleh biaya franchise yang rendah. Ray Kroc telah menciptakan salah satu merek yang paling kuat sepanjang masa. Tetapi dia nyaris tidak mendapat keuntungan. Akhirnya, dia memutuskan untuk menggunakan real estate sebagai pendukung keuangan yang menyebabkan McDonald’s menjadi operasi yang menguntungkan. Pada tahun 1956, Kroc mendirikan Franchise Realty Corporation, membeli tanah dan bertindak selaku pemilik restoran bagi pembeli franchise yang penuh minat. Dengan langkah ini, McDonald’s mulai memperoleh penghasilan yang sesungguhnya, dan perusahaan pun lepas landas. Kroc kemudian memperkenalkan program periklanan nasional untuk mendukung franchise yang tersebar dengan cepat; dan setelah tampak bahwa pertumbuhan di wilayah asal perusahaan ini melambat pada awal tahun 1970-an, dia memulai dorongan yang penuh semangat dan sukses untuk membuat kehadiran global bagi McDonald’s.

Sepanjang pertumbuhan perusahaan yang spektakuler, Kroc melakukan akrobat keseimbangan berjalan di atas rentangan tali yang sulit, memberlakukan standar yang keras di seluruh sistem sementara mendorong semangat wirausaha yang menyambut baik gagasan dari semua tingkat. Banyak gagasan ini yang memberikan sumbangan kepada keberhasilan perusahaan yang menakjubkan. Dalam mengumpulkan kekayaan sebesar $500 juta, raja hamburger ini mengubah lansekap budaya bangsa dan menempa sebuah industri yang termasuk di kalangan ekspor Amerika yang terbesar. Keberhasilan McDonald’s yang ditiru secara meluas menawarkan contoh yang baik sekali bagi manajer dan eksekutif zaman sekarang yang berusaha mencari efisiensi produksi yang lebih besar.

Dengan menempatkan hamburger yang bersahaja di atas jalur perakitan, Kroc menunjukkan kepada seluruh dunia bagaimana cara menerapkan pross manajemen yang maju pada usaha yang paling membosankan. Supaya bisa maju dengan cara McDonald’s, perusahaan-perusahaan harus menetapkan prinsip dasar pelayanan yang mereka tawarkan, memecah-mecah pekerjaan menjadi bagian-bagian, dan kemudian terus-menerus merakitnya kembali dan menyempurnakan banyak langkah sampai sistem berjalan tanpa kekangan. Hari ini, perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam antara pizza, pemrosesan klaim asuransi, atau menjual mainan mendapat keuntungan dari jenis sistem yang dipelopori oleh Ray Kroc. Sampai tingkat ketika operasi seperti ini menjaga pengendalian mutu, dan memelihara kepuasan pelanggan, keuntungan akan mengalir.

Sebagai salesman mesin susu kocok, Raymond Kroc secara rutin mengunjungi kliennya. Tetapi ketika salesman berumur lima puluh dua tahun ini pergi dari rumahnya dekat Chicago ke California selatan untuk menemui dua kliennya yang terbesar, hasilnya sama sekali bukan hal rutin. Maurice dan Richard McDonald meninggalkan New Hampshire pada tahun 1930, berusaha mencari peruntungan di Hollywood. Karena tidak bisa mendapatkan hasil besar di Tinseltown, kakak beradik ini akhirnya menjadi pemilik restoran drive-in di San Bernardino, kota kecil berdebu sejauh lima puluh lima mil di sebelah timur Los Angeles. Sementara kebanyakan restoran membeli satu atau dua Prince Castle Multimixer, yang bisa mencampur lima gelas susu kocok sekaligus, McDonald bersaudara membeli delapan buah. Dan Kroc ingin tahu jenis operasi apa yang membutuhkan kemampuan membuat empat puluh gelas susu kocok pada saat saat yang bersamaan.

Maka dia pergi ke San Bernardino, dan apa yang dilihatnya di sana mengubah kehidupannya. Kroc berdiri di keteduhan dua gerbang lengkung keemasan restoran yang gemerlapan, yang menerangi langit di senja kala, dan melihat antrian orang-orang yang berkelok-kelok seperti ular di luar restoran yang berbentuk segi delapan. Melalui dinding bangunan yang selurunya terbuat dari kaca, dia memandangi para karyawan pria, yang memakai topi kertas dan seragam putih, sibuk di restoran yang sangat bersih, menyajikan burger dalam piring, kentang goreng dan susu kocok kepada keluarga-keluarga kelas pekerja yang berdatangan naik mobil. “Sesuatu pasti sedang terjadi di sini, saya mengatakan kepada diri sendiri,” Kroc kemudian menulis dalam otobiografinya, Grinding It Out. “Ini pasti operasi perdagangan paling menakjubkan yang pernah saya lihat.” Tidak seperti begitu banyak operasi pelayanan makanan yang pernah ditemui oleh Krock, tempat ini mendengung seperti mesin yang ditun-up dengan sempurna.

Sebagaimana Forbes menyatakannya, “singkatnya, kakak-beradik ini mendatangkan efisiensi kepada bisnis yang cepat.” Mereka menawarkan menu sembilan jenis makanan – burger, kentang goreng, susu kocok, dan pai – menyingkirkan tempat duduk, serta menggunakan alat makan kertas dan bukannya kaca atau porselen. Mereka juga merancang jalur perakitan kasaran sehingga mereka bisa melayani pesanan dalam waktu kurang dari enam puluh detik. Kroc seketika tahu bahwa dia telah melihat masa depan. “Malam itu dalam kamar motel saya, saya berpikir keras tentang apa yang saya lihat siang harinyal. Bayangan restoran McDoland’s yang tersebar di sekitar perempatan jalan di seluruh negara berpawai melalui otak saya.”

Dengan persetujuan di tangan, Kroc mulai memenuhi bayangannya tentang restoran McDonald’s yang meledak dari pantai ke pantai. Dia memulai dengan membangun mata rantai pertama kongsi restoran ini – sebuah model eksperimewntal di Des Plaines, illinois, di luar kota Chicago, yang bersifatkan harga rendah yang sama, demikian pula menu yang terbatas, dan pelayanan cepat seperti di restoran San Bernardino. Restoran yang dibuka pada tanggal 15 April 1955 ini mencapai penjualan yang terhormat sebesar $366,12 dengan cepat memasukkan keuntungan. Kroc mengawasi restoran ini dengan waspada seperti seorang ibu baru, secara pribadi memimpin kegiatan dapur dan mengorek sisa permen karet dari pelataran parkir dengan pisau raut. Bagi Kroc, meniru satu kedai tunggal kakak-beradik McDonald baru permulaannya.

Supaya bisa membangun kongsi restoran, Kroc tahu bahwa dia harus memberlakukan disiplin atas industri restoran yang dikelola secara longgar. Dan itu berarti menyempurnakan prosedur operasi yang distandarkan dalam proses yang bisa ditiru. Empat puluh tahun sebelumnya, Henry Ford sudah menyadari bahwa produksi masal mobil memerlukan perkawinan antara presisi bagian-bagian mobil dan proses perakitan yang efisien. Wawan Kroc adalah menerapkan disiplin yang sama pada pembuatan sandwich. Dengan menggunakan gagasan bahwa “ada ilmu untuk membuat dan menyajikan hamburger,” Kroc memberikan kepada kepingan daging sapi gilingnya spesifikasi yang tepat – kandungan lemak: di bawah 19 persen; berat: 1,6 ons: garis tengah: 3,875 inci; bawang: ¼ ons . Kroc bahkan membangun sebuah laboratorium di pinggiran kota Chicago untuk merancang metode pembuatan kentang goreng yang sempurna pada
akhir tahun 1950-an. Bukannya sekedar memasok pembeli franchise dengan rumus susu kocok dan eskrim, Kroc ingin menjual kepada mitra barunya satu sistem operasi.

Dengan lain perkataan, dia membuat cap satu pelayanan. Dan ini sarana revolusioner yang akan digunakan oleh McDonald’s untuk menciptakan kongsi restoran yang di dalamnya satu restoran
di Delaware dan satu restoran di Nevada akan menyajikan burger yang tepat sama ukuran dan mutunya, masing-masing berisi potongan acar yang sama, setiap burger disajikan dalam talam yang serupa bersama kentang goreng yang dimasak dengan lamanya waktu yang sama. Sebagaimana yang diingat oleh Kroc, “Kesempurnaan sulit sekali dicapai, dan kesempurnaanlah yang saya inginkan dalam McDonald’s. Segala hal lainnya sekunder bagi saya.” Tetapi tuntutan yang serba tepat melayani satu tujuan strategis. “Tujuan kami, tentu saja, adalah memastikan bisnis yang berulang berdasarkan reputasi sistem dan bukannya mutu satu restoran atau operator tunggal,” kata Kroc. Walaupun franchise McDonald’s bertumbuhan dimana-mana di seluruh daerah di Barat Tengah dan Barat seperti bunga liar setelah hujan musim semi, keberhasilan perusahaan rupanya berumur pendek. Sementara persetujuan asli yang dijalin dengan kakak-beradik McDonalds menyebabkan Kroc menyayangi pembeli franchise yang paling awal, ini juga menyebabkan perusahaan yang baru lahir ini langsung menuju kemungkinan bangkrut. Selama tahun 1960, ketika kongsi restoran ini mengeruk uang $75 juta dalam penjualan, penghasilan McDonald’s hanya $159.000.

“Singkatnya, konsep Kroc untuk membangun McDonald’s, John Love. Dan rumah kartu impian Kroc mulai runtuh di bawah bobotnya sendiri. Sementara terbenam dalam utang dan tanpa pertumbuhan keuntungan yang bisa dibayangkan, Kroc menghadapi satu dilema yang klasik. Dia tidak mampu memperluas usaha. Dan dia tidak bisa tetap terapung. Untunglah, Harry Sonnenborn menemukan pemecahan. Dia berpikir McDonald’s harus mendapatkan uang dengan menyewa atau membeli lokasi yang akan dijadikan kedai dan kemudian menyewakannya kembali kepada pembeli franchise mula-mula dengan peningkatan harga 20 persen, dan kemudian 40 persen. Di bawah rencana ini, McDonald’s akan mencari lokasi yang sesuai dan menandatangani perjanjian sewa dengan bunga yang ditentukan. Strategi real estate pas sekali dengan tujuan penguasaan Kroc yang lebih besar. Bukannya menjual franchise geografis sebagai selubung, yang akan memberikan kepada pemegangnya hak untuk membangun sebanyak-banyaknya atau sesedikit-sedikitnya kedai sekehendak hatinya disuatu kawasan tertentu, Kroc hanya menjual franchise individual, dengan biaya rendah $950.

Ini mematikan bahwa operator yang tidak bersedia bermain mengikuti aturannya hanya bisa membuka tidak lebih dari satu saluran. Setelah menyerahkan urusan keuangan yang stabil ke tangan Harry Sonnenborn yang ahli, Kroc mulai memperluas dan memprofesionalkan kerajaan industri yang sedang tumbuh ini. Di bawah konsepsinya yang baru, setiap pembeli franchise dan operator seperti seorang manajer pabrik. Karena mengetahui bahwa ukuran bagi kompleks industri yang maju adalah manajemen profesional, pada tahun 1961 Kroc meluncurkan satu program latihan-di restoran baru di Elk Grove Village, Illinoiss. Di sana, kelompok pelaksana melatih pembeli franchise dan operator dalam metode ilmiah mengelola McDonald’s yang sukses dan melatih mereka dalam ajaran kroc tentang Mutu, Pelayanan, Kebersihan dan Nilai. “Saya menaruh hamburger pada jalur perakitan,” Kroc suka mengatakan. Hamburger juga berisi laboratorium penelitian dan pengembangan untuk mengembangkan mekanisme memasak, membekukan, menyimpan, dan menyajikan. Di mana pun juga tidak ada dikotomi antara pengendalian pusat dan otonomi operasi yang lebih kentara daripada dalam iklan. Pada hari Natal akhir tahun 1950-an, Turner dan para manajer lainnya bisa berkeliling Chicago Loop dengan “Kereta Sinterklas,” sebuah truk eskrim yang diubah menjadi restoran drive-in McDonal’s yang beroda.

Namun kendati sangat menyukai cara menjajakan barang dagangan model kini ini, McDonald’s tidak mempunyai strategi periklanan untuk seluruh perusahaan. Sebaliknya, ketika operator Minneapolis Jim Zein melihat penjualannya meledak pada tahun 1959 setelah memasang iklan radio, Kroc mendorong para operator untuk memanfaatkan gelombang udara dengan kampanye mereka sendiri. Iklan yang sukses membantu penggalakan pertumbuhan yang lebih besar. Dan pada tahun 1965, dengan 710 restoran McDonald’s tersebar dalam empat puluh empat negara bagian, $171 juta dalam penjualan, dan neraca yang relatif mantap, akhirnya McDonald’s mekar sepenuhnya. Perusahaan ini go public pada tanggal 15 April, tepat sepuluh tahun sampai ke harinya setelah Kroc membuka kedai Des Plaines, menjual 300.000 saham dengan harga per lembar $22,50. Banyak saham ini yang ditawarkan oleh Kroc, yang mengeruk uang $3 juta dalam penjualan. Kroc mengerahkan uang tunai ini untuk memperluas perusahaan dan melawan pesaing yang dengan cepat menyebar di mana-mana, sebab keberhasilan perusahaan telah melahirkan banyak imitasi yang berusaha memanfaatkan industrialisasi fast food yang semakin meningkat. Melalui pertumbuhan yang pesat dan iklan yang meluas, McDonald’s pada awal tahun 1970-an menjadi kongsi restoran fast food yang terbesar di seluruh negara dan sifat yang mudah dikenali dari lansekap budaya Amerika. Dan penguasa tertinggi McDonaldland, Ray Kroc, menjadi seorang tokoh yang bertingkat nasional.

Pada tahun 1972, ketika lebih dari 2.200 saluran McDonald’s mengeruk penjualan $1 milyar, kroc menerima hadiah Horatio Alger dari Norman Vincent Peale. Sementara nilai saham pemilikannya meningkat menjadi kira-kira $500 juta. Sementara produk McDonald’s menjadi makanan pokok Amerika, hal ini membangkitkan keinginan menyelidiki wartawan dan politikus pembaharuan yang suka mencari-cari kejelekan, raksasa industri profil tinggi Ray Kroc juga menarik perhatian dari banyak pihak. Sementara produk McDonald’s menjadi makanan pokok Amerika, hal ini membangkitkan sikap tinggi hati kaum elit industri makanan. Mimi Sheraton dari New york magazine menyatakan: “Makanan McDonald’s mengerikan secara tidak ketulungan, tanpa keindahan apa pun.” Para politikus juga memperhatikan. Pada tahun 1974, ketika nilai pasar perusahaan ini melampaui nilai U.S. Steel yang maju dengan lambat, Senator Lloyd Bentsen mengeluh: “Ada sesuatu yang tidak beres dengan ekonomi kita kalau pasar saham lebih banyak dalam hamburger dan lebih sedikit dalam baja.” Banyak analis yang memandang pertumbuhan McDonald’s yang pesat sebagai hal yang tidak akan bisa dipertahankan. Tetapi Kroc merasa yakin bahwa perusahaan perlu terus berkembang supaya bisa bertahan hidup. “Saya tidak percaya dengan kejenuhan,” dia berkata. “Kami berpikir dan bicara dalam tingkat seluruh dunia.” Kroc membayangkan sebuah dunia yang di dalamnya 12.000 pasang Gerbang Lengkung Keemasan akan berdiri sebagai pos luar sebuah kerajaan perdagangan yang perkasa. Mendirikan pangkalan di ibu kota negara-negara Eropa baru permulaannya. Dengan berlalunya waktu sepuluh tahun, seribu restoran yang dibuka oleh perusahaan di luar negeri menggalakkan 27 persen tingkat pertumbuhan tahunan. Kongsi restoran ini begitu universal dikenal sebagai lambang usaha Amerika dan berpengaruh, sehingga ketika gerilyawan Marxis meledakkan sebuah restoran McDonald’s di San Salvador pada tahun 1979, mereka menyatakan bahwa tindakan teroris ini sebuah pukulan mematikan terhadap “imperialis Amerika.”

“Walaupun McDonald’s mencapai sukes, dan kekayaan pribadinya mencapai $340 juta, dia selalu khawatir,” Forbes menulis pada tahun 1975, “Kalau Kroc bepergian, dia bersikeras menyuruh sopirnya membawanya paling sedikit ke enam restoran McDonald’s untuk melakukan inspeksi kejutan.”. Walaupun dia membunuh persaingan, persaingan tidak membunuh Ray Kroc. Dia meninggal dunia dalam usia lanjut pada bulan Januari 1984, pada umur delapan puluh satu tahun, tepat sepuluh bulan sebelum McDonald’s menjual hamburger yang ke-50 milyar.

referensi :

- http://yapono.wordpress.com/2008/06/07/raymond-kroc-mcdonald-dan-globalisasi-industri-fastfood/


Sejarah

Ray Kroc, Sang Pendiri McDonald’s
“Seandainya saya diberi sebuah batu bata setiap kali saya menyebut ‘Quality, Service, Cleanliness and Value’, barangkali saat ini saya telah punya cukup banyak bata untuk menjembatani Samudra Atlantik”
~ Ray Kroc
Awal Mula
Ray Kroc mengawali karirnya sebagai pengemudi ambulans Palang Merah di tahun 1917, meski saat itu sebetulnya ia belum memenuhi syarat untuk terjun ke medan perang karena usianya yang baru menginjak 15 tahun. Namun niat mulia pria kelahiran Illinois ini tidak pernah terwujud karena perang telah terlebih dulu berakhir sebelum ia sempat menyelesaikan masa pelatihannya. Pada masa pasca Perang Dunia I, Ray mencoba beberapa macam pekerjaan sebelum akhirnya ia memfokuskan diri sebagai seorang salesman.
Di tahun 1954 Ray dikejutkan dengan datangnya pesanan dalam jumlah besar berupa 8 multi-mixer dari sebuah restoran di San Bernardino, California. Di sana ia menemukan sebuah restoran yang berskala tidak terlalu besar namun terbilang sukses yang dikelola oleh Dick dan Mac McDonald, dan Ray mengagumi efektifitas pengoperasian restoran tersebut. Restoran ini memiliki menu yang terbatas, dengan memfokuskan pada beberapa jenis, yaitu burger, fries, dan minuman dimana dengan menu terbatas mereka dapat fokus pada setiap detil tahap produksi agar sesuai dengan standar kualitas yang tinggi.
Kepada kakak-beradik tersebut, Ray mengungkapkan visinya untuk membuka cabang restoran McDonald’s di seluruh penjuru Amerika. Di tahun 1955, Ray mendirikan McDonald’s Corporation, dan lima tahun kemudian beliau memiliki hak eksklusif atas merk McDonald’s. Tiga tahun kemudian, McDonald’s berhasil menjual 100 juta hamburger.
Filosofi Unik
Perjalanan sukses Ray Kroc berawal dari sebuah ide untuk membangun jaringan restoran yang identik dengan kualitas tinggi, konsistensi serta keseragaman metode produksi. Beliau hendak menyajikan burgers, buns, fries dan minuman yang bercita rasa sama dimanapun juga.
Untuk mencapai hal ini, Ray menyatukan visi dengan pihak franchisee (penerima waralaba) dan pihak supplier (pemasok). Ia meyakinkan dan memotivasi mereka untuk bekerja sama dengan McDonald’s, dan bukan untuk McDonald’s. Untuk menguatkan filosofi ini, Ray menciptakan slogan “In business for yourself, but not by yourself” – bekerja untuk diri sendiri, namun tidak bekerja sendiri. Dari filosofi inilah jaringan restoran McDonald’s terbangun.
Etos kerja jarigan restoran McDonald’s ini didasari oleh prinsip 3 kaki yang menopang berdirinya sebuah bangku (“3-legged stool”) : kaki pertama adalah McDonald’s, kaki kedua adalah franchisee dan yang ketiga adalah supplier. Tanpa salah satu kaki, bisnis tidak akan berjalan optimal.
Penghargaan Untuk Inovasi
Ray Kroc adalah pribadi yang sangat memandang tinggi jiwa kewirausahaan. Hal ini ditunjukkan oleh penghargaan-penghargaan yang diberikannya kepada para franchisee atas kreativitas individual mereka. Bahkan produk-produk McDonald’s yang paling popular seperti Big Mac dan Filet-O-Fish lahir dari kreasi franchisee. Meski memberi kebebasan penuh untuk berkreasi kepada para franchisee, McDonald’s tetap menuntut standar utama mereka, yaitu QSC&V (Quality, Service, Cleanliness and Value).
Awal Mula Kualitas
Keinginan besar McDonald’s akan kualitas membuat semua bahan baku sudah diuji coba, dirasakan dan disempurnakan agar sesuai dengan sistem pengoperasian. Seiring dengan nama restoran yang semakin dikenal, sejumlah pesanan-pesanan besar mendapat perhatian dari para supplier, mereka mulai memandang serius standar McDonald’s seperti halnya McDonald’s sendiri. Ketika restoran-restoran cepat saji lain mulai mengikuti, McDonald’s meningkatkan standarnya pada produk daging, sayuran, dan susu. Ray Kroc kembali mencari partnership – kali ini dengan para supplier McDonald’s – dan kali ini Ray berhasil menciptakan supply system yang paling terintegrasi, efisien dan inovatif dalam industri jasa makanan. Hubungan dengan para supplier ini sudah terjalin selama puluhan tahun; bahkan beberapa diantaranya memulai bisnisnya dengan Ray Kroc.
Hamburger University
Di tahun 1961, Ray Kroc meresmikan sebuah program pelatihan yang bertempat di sebuah restoran baru di Elk Grove Village, Illinois. Di sarana pelatihan yang kemudian dinamai Hamburger University ini, franchisee dan operator diajari metode ilmiah untuk menjalankan usaha waralaba McDonald’s dengan sebaik mungkin. Fasilitas ini juga dilengkapi dengan laboratorium R&D (Research and Development) yang meneliti metode pemasakkan, pembekuan, penyimpanan serta penyajian. Hingga saat ini, telah ada lebih dari 80.000 orang lulus dari Hamburger University.
Akhir Perjalanan
Semangat Ray Kroc tidak pernah terkikis usia. Beliau meninggal dunia pada tanggal 14 Januari 1984. Hingga akhir hayatnya beliau tidak pernah berhenti bekerja untuk McDonald’s. Bahkan pada saat duduk di kursi roda pun, beliau masih bekerja setiap hari di kantornya di San Diego dan tetap mengawasi pengoperasian restoran McDonald’s secara ketat, mulai dari kebersihan sampah, kebersihan area restoran hingga menyalakan lampu di malam hari.
Berkat jiwanya yang menjunjung tinggi semangat kewirausahaan, komitmennya terhadap kualitas serta kontribusinya bagi masyarakat Amerika Serikat, Ray Kroc dikenang sebagai seorang tokoh integral dari McDonald’s yang kita kenal saat ini.
Sumber :
1. Grinding It Out : The Making of McDonald’s by Ray A Kroc, Ray A Kroc 1977
2. McDonald’s : Behind the Golden Arches by John F Love, John F Love 1995

Kamis, 03 Januari 2013

Pantaskah kita Mengeluh...??

 Pantaskah kita Mengeluh...??


Ketika kita mengeluh : “Ah mana mungkin.....”Allah menjawab : “Jika AKU menghendaki,cukup Ku berkata “Jadi”,maka jadilah (QS. Yasin ; 82)

Ketika kita mengeluh : “Capek banget gw....”Allah menjawab : “...dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS.An-Naba :9)
... ...
Ketika kita mengeluh : “Berat banget yah, gak sanggup rasanya...”Allah menjawab : “AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah : 286)


Ketika kita mengeluh : “Stressss nih...Panik...”Allah menjawab : “Hanya dengan mengingatku hati akan menjadi tenang”. (QS.Ar Ro’d :28)

Ketika kita mengeluh : “Yaaaahh... ini mah semua bakal sia-sia..”Allah menjawab :”Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun,niscaya ia akan melihat balasannya”. (QS. Al-Zalzalah :7)

Ketika kita mengeluh : “Gile aje..gw sendirian..gak ada seorangpun yang mau bantuin...”Allah menjawab : “Berdoalah (mintalah) kepadaKU,niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60)

Ketika kita mengeluh : “ Duh..sedih banget deh gw...”Allah menjawab : “La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita:. (QS. At-Taubah :40)

kita semua yang mulai galau atas perhatian Allah yang serasa jauh dari kita padahal sebaliknya Allah dekat selalu (QS. Al-Baqarah 186)..
____________________________________________________________
Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat.
SilaHkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun.Semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Minggu, 23 Desember 2012

9 Tipe Kepribadian Entrepreneur - Yang Manakah Tipe anda?


9 Tipe Kepribadian Entrepreneur -

Yang Manakah Tipe Kepribadian anda?

Ketahuilah tipe-tipe kepribadian
pebisnis, agar kita bisa tahu apa
yang kita butuhkan untuk sukses.
Apakah anda memiliki tipe yang
sama dengan Bill Gates yang visioner?
atau improver seperti Anita Roddick,
pendiri Body Shop? Baca saja,
tipe-tipe kepribadian seorang
pebisnis di bawah ini:






1. The Improver.
 
Anda memiliki kepribadian ini jika

Anda menjalankan bisnis dengan
menonjolkan gaya improver alias ingin
selalu memperbaiki. Anda menggunakan
perusahaan Anda untuk memperbaiki
dunia. Improver memiliki kemampuan
yang kokoh dalam menjalankan bisnis.
Mereka juga memiliki intergritas dan
etika yang tinggi.
 
Personality Alert: Waspadai sifat
Anda yang cenderung menjadi
perfeksionis dan terlalu kritis
terhadap karyawan dan pelanggan Anda.
Contoh Entrepreneur: Anita Roddick,
pendiri The Body Shop.
 

2. The Advisor.

Tipe kepribadian pebisnis seperti ini
bersedia memberikan bantuan dan saran
tingkat tinggi bagi para
pelanggannya. Motto dari advisor ini
yaitu pelanggan adalah benar dan kita
harus melakukan apa saja untuk
menyenangkan mereka.
 
Personality Alert: Seorang advisor
bisa jadi terlalu fokus pada
kebutuhan bisnis mereka dan
pelanggan, sehingga cenderung
mengabaikan kebutuhan mereka sendiri
dan bisa-bisa malah cape hati
sendiri. Contoh Entrepreneur: John W.
Nordstrom, pendiri Nordstorm.
 

3. The Superstar.
 
Inilah bisnis yang pusatnya
dikelilingi oleh karisma dan energi
tinggi dari Sang CEO Superstar.
Pebisnis dengan kepribadian seperti
ini biasanya membangun bisnis mereka
dengan personal brand mereka sendiri.
 
Personality Alert: Pebisnis dengan
tipe ini bisa menjadi terlalu
kompetitif dan workaholics. Contoh
Entrepreneur: Donald Trump, CEO Trump
Hotels & Casino Resorts.
 

4. The Artist.
 
Kepribadian pebisnis seperti ini
biasanya senang menyendiri tapi
memiliki kreativitas yang tinggi.
Mereka biasanya sering kali ditemukan
di bisnis yang membutuhkan
kreativitas seperti pada perusahaan
agen periklanan, web design, dll.
 
Personality Alert: Pebisnis tipe ini
bisa jadi terlalu sensitif terhadap
respon pelanggan Anda, walaupun
kritik dari mereka bersifat
membangun. Contoh Entrepreneur: Scott
Adams, pendiri dan penggagas Dilbert. 

5. The Visionary.
 
Sebuah bisnis yang dibangun oleh
seorang visioner biasanya berdasarkan
visi masa depan dan pemikiran
pendirinya. Anda memiliki
keingintahuan yang tinggi untuk
mengerti dunia di sekeliling Anda dan
akan membuat rencana untuk
menghindari segala macam rintangan.
 
Personality Alert: Seorang visioner
bisa jadi terlalu fokus pada mimpi
mereka dan kurang berpijak pada
realitas. Dan jangan lupa, menyertai
visi Anda dengan melakukan tindakan
nyata. Contoh Entrepreneur: Bill
Gates, pendiri MicroSoft Inc.
 

6. The Analyst.
 
Jika Anda menjalankan bisnis sebagai
seorang analis, perusahaan Anda
biasanya memfokuskan pada
penyelesaian masalah dalam suatu cara
sistematis. Seringkali berbasis pada
ilmu pengetahuan, keahlian teknis
atau komputer, seorang analis
perusahaan biasanya hebat dalam
memecahkan masalah.
 
Personality Alert: Hati-hati dengan
kelumpuhan analisa. Bekerjalah dengan
mempercayai orang lain. Contoh
Entrepreneur: Gordon Moore, pendiri
Intel.
 

7. The Fireball.
 
Sebuah bisnis yang dimiliki oleh si
Bola Api ini biasanya dioperasikan
dengan penuh hidup, energi dan
optimisme. Pelanggan merasa
perusahaan Anda dijalankan dengan
tingkah laku yang fun.
 
Personality Alert: Anda bisa jadi
berkomitmen yang berlebihan terhadap
tim Anda dan bertingkah laku terlalu
impulsif. Seimbangkan keimpulsivan
Anda dengan rencana bisnis. Contoh
Entrepreneur: Malcolm Forbes,
penerbit dan pendiri Forbes Magazine.
 

8. The Hero.
 
Anda memiliki kemauan dan kemampuan
yang luar biasa dalam memimpin dunia
dan bisnis Anda melalui segala macam
tantangan. Anda adalah inti dari
kewirausahaaan dan bisa mengumpulkan
banyak perusahaan besar.
 
Personality Alert: Terlalu mengumbar
janji dan menggunakan taktik kekuatan
penuh untuk mendapatkan sesuatu
dengan cara Anda tidak akan berhasil
dalam jangka waktu panjang. Untuk
menjadi sukses, percayailah
keterampilan kepemimpinan Anda untuk
menolong orang lain menemukan jalan
mereka. Contoh Entrepreneur: Jack
Welch, CEO GE.
 

9. The Healer.

Jika Anda adalah seorang 'penyembuh',
Anda bersifat pengasuh dan penjaga
keharmonisan dalam bisnis Anda. Anda
memiliki kemampuan bertahan yang luar
biasa dan keteguhan disertai dengan
ketenangan dari dalam.
 
Personality Alert: Karena sifat
perhatian Anda dan kepenyembuhan Anda
dalam menjalankan bisnis, Anda bisa
jadi menghindari realitas di luar
sana dan selalu terlalu berharap.
Gunakan skenario perencanaan untuk
persiapan datangnya masalah. Contoh
Entrepreneur: Ben Cohen, salah satu
pendiri Ben & Jerry's Ice Cream.
 
Nah, dengan mengetahui 9 tipe
kepribadian dalam menjalankan sebuah
bisnis,  anda bisa lebih terarah

dalam membangun bisnis . Tapi, yang
tak kalah pentingnya adalah
pengetahuan mengenai seluk beluk
bisnis itu sendiri, termasuk bagaimana
cara memasarkannya *melalui internet*.
 
artikel ini dikirim dari admin@asianbrain.com kepada saya.
semoga bermanfaat :D
tetap kunjungi HB Enterrise (Holic Berkah Enterprise) di holicberkahenterprise.blogspot.com


salam :D

Holic A. Khaliq
_Owner HB Enterprise



Minggu, 16 Desember 2012

Spiritual Marketing Sebagai Ruh Bisnis

Stephen R Covey, dalam bukunya The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness mengatakan bahwa faktor spiritual merupakan factor kunci terakhir yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam suatu perusahaan. Sedang Ahmad Riawan Amin, CEO Bank Muamalat Indonesia mengatakan, sebuah perusahaan yang baik tidak cukup hanya menciptakan good corporate governance, melainkan juga melaksanakan prinsip God corporate governance. Dengan itu, semua lini perusahaan bekerja tidak semata karena alasan financial, tetapi termotivasi oleh pengabdian kepada Sang Maha. Inilah yang dimaksud dengan semangat spiritual dalam konsep “prinsip-prinsip langit” (celestial principle).

Di era yang serba materialis, tidak gampang mensinergiskan antara kebutuhan kebendaan dengan faktor pengabdian kepada Sang Khaliq (spiritualisme). Karena kebutuhan hidup diukur dengan sesuatu yang kongkrit (kasat mata) sedang pengabdian diukur dengan pahala yang ghaib (tidak kasat mata) yang tidak langsung bisa dirasakan. Ketika kita dihadapkan antara pilihan mengeluarkan sejumlah uang untuk investasi bisnis dengan mengeluarkan untuk berzakat, sebagian diantara kita pasti akan memilih yang pertama. Jelas…karena itu menguntungkan.

Namun lain jadinya jika yang melakukan adalah orang yang telah memiliki seperangkat pemahaman, bahwa kehidupan ini semata-mata untuk beribadah (dalam artian luas) pada-Nya, yaitu Sang Pencipta. Dia tunjukkan dengan cara selalu melakukan ketaatan-ketaatan, maka pilihannya pasti yang kedua. Terlebih bagi mereka yang memahami kebahagiaan sejati sesungguhnya hanyalah mendapat ridlo Allah, sehingga tidak ada sesuatu yang diharapkannya selain kecintaan Allah swt pada dirinya. Inilah esensi spiritual itu. Dan inilah sikap serta ketaatan yang diajarkan oleh Islam dalam setiap langkah hidupnya,  termasuk saat kita melakukan aktifitas bisnis.

Bisnis berlandaskan syariah sangat mengedepankan halal haram (dua kata yang menakutkan bagi sebagian kalangan. Pen.) sebagai pijakan utamanya, berbeda dengan konsep kapitalis yang selalu berpijak pada keuntungan semata. Hanya saja, seringkali halal haram berhenti di tataran fiqh, atau norma etis, dan tidak dikembangkan ke dalam sebuah sistem bisnis yang utuh. Dalam aktifitas marketing misalnya, halal haram akan tercermin dalam kejujuran seorang marketer tatkala melakukan negosiasi harga. Bukan saja tidak akan ada riswah (suap),  atau korupsi dalam kamus mereka, begitupun penipuan. Tetapi yang dikedepankan adalah seperangkat layanan yang paling sempurna (satisfaction) yang akan memuaskan semua stakeholders (pelanggan, karyawan, pengelola, dan pemilik saham) secara syar’iy.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw, “Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang yang murah hati pada saat dia menjual, membeli, atau saat dia menuntut haknya” [al Hadits].

Spiritual marketing adalah puncak dari marketing itu sendiri. Ia akan memancarkan cahaya kebenaran di tengah-tengah kegelapan. Meluruskan praktik-praktik kecurangan, kebohongan, iklan palsu, penipuan, kezaliman, dan sebagainya. Oleh karenanya, mutlak bagi seorang marketer spiritual marketing untuk selalu ingat akan firman Allah swt :

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?”
[TQS. al Qiyamah: 36].

Wallahu’alam bi ash showab.




Muhasabah Bisnis : Belajar Dari Anekdot



Menjalankan kegiatan bisnis tidak pernah sepi dari tantangan dan hambatan. Termasuk hari ini. Baik menyangkut masalah permodalan, sumberdaya manusia, pemasaran maupun perijinan. Tapi bagi pebisnis muslim kiranya tantangan terbesar adalah bagaimana menjalankan bisnis dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam di tengah-tengah  suasana bisnis dalam sistem kapitalistik yang menghalalkan segala cara.  Tentu saja jalan belum tertutup sama sekali. Bahkan masih cukup banyak peluang terbuka bagi pebisnis muslim yang mencoba untuk sukses tanpa harus melanggar syariah. Pun termasuk saat bisnis agak redup.
Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan (QS. Alam Nasyrah : 6)
Muslimpreneur, saat kinerja bisnis kita menurun, seringkali kita tidak melakukan muhasabah atau koreksi mendalam sebagaimana yang seharusnya. Boleh jadi, tanpa disadari, kita malah sibuk mencari helah pembenar atau bahkan dalih pembalik fakta.  Akhirnya, kita malah melindungi kegagalan dengan ‘keberhasilan semu’, bukan malah memperbaikinya.  Kita terjebak pada kesombongan. Sesuatu yang malah akan menjadi titik kejatuhan.
Seperti anekdot yang ditulis oleh Bonnie Triyana, seorang sejarawan-cum-wartawan di salah satu media ibukota, Januari 2009 lalu. Ia menuliskan “syahdan, dalam suatu pertemuan arkeolog internasional, arkeolog amerika melaporkan bahwa mereka telah menggali lubang sedalam 3 meter dan menemukan serat tembaga di dalam galian. Atas penemuan itu, mereka mengklaim  bahwa sejak 350 tahun lalu penduduk asli amerika telah menggunakan telepon… Sementara itu arkeolog israel mengklaim telah menemukan pecahan gelas di dalam lubang sedalam 4 meter di dekat Tepi Barat, dan berdasarkan temuan yang mirip dengan serat optik itu, mereka menyimpulkan bahwa 400 tahun yang lalu orang yahudi sudah menggunakan internet. Arkeolog Indonesia tak mau kalah. Mereka melaporkan telah menggali tanah sedalam lima meter di Trowulan dan tidak menemukan apa-apa. Maka, disimpulkan bahwa 500 tahun yang lalu Gadjah Mada sudah menggunakan handphone.”
Tulisan Bonnie sebenarnya diarahkan untuk menganalisis iklan politik klaim keberhasilan pembangunan oleh pemerintah. Namun, anekdot ini juga dapat dimaknai dengan interpretasi lain. Intinya, sindiran ini agaknya mengingatkan bahwa kita lebih suka melihat dan bangga atas klaim capaian hasil yang positif – sekalipun tak sepenuhnya positif – ketimbang berintrospeksi atas sejumlah capaian negatif - kalau tak mau disebut kegagalan.
Maka, saat kinerja bisnis turun atau ada tanda-tanda menurun, kita mesti sabar dan segera muhasabah apa yang sebenarnya terjadi hingga didapatkan faktor-faktor penyebabnya.  Boleh jadi, ada di faktor reputasi yang tercoreng karena delivery time yang tak lagi tepat. Bisa juga karakter bisnis yang kita bangun cenderung instan, rentan akan gangguan. Mungkin juga kita tidak konsentrasi di bisnis yang kita kuasai, sementara belum pernah terdengar kisah sukses pengusaha yang berada dalam bidang yang tidak dikuasainya sama sekali. Atau, boleh jadi, bisnis kita berada di tengah kerumunan begitu banyaknya pemain sejenis, hingga makin hari makin sulit bernafas. Atau juga, kita terlalu fokus pada modal uang, sementara, modal keahlian, jaringan, nama baik, penguasan teknologi, pengetahuan mengenai pasar tidak kita kuasai.
Dari situlah kemudian, kita bisa susun solusinya secara tepat. Lalu, mainkan program aksinya. Rumusnya, tetap harus ada (1) motivasi bisnis untuk meraih bisnis penuh ‘berkat’ dan berkah, (2) doa ‘sapu jagat’ agar bisnis kita membahagiakan kita di dunia dan akhirat nanti, (3) ikhtiar perbaikan dan improvisasi tiada henti karena bisnis tidak stagnan tapi terus dituntut untuk lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi, serta (4) tawakkal yang kita letakkan di depan, di tengah dan di akhir proses bisnis kita.
Tetap semangat !

Kepala Cicak dan Ekor Buaya




Kurang lebih sekitar tiga tahun lalu (2009), Suatu ketika sambil menunggu hujan saya mampir di warung kopi dan berkerumun dengan beberapa orang yang baru pulang bekerja. Seperti biasanya kalau bersilaturahim dengan teman-teman dekat atau dengan yang sejawat, biasanya selalu membicarakan mengenai aktivitas apa saja yang digeluti, lanjut ke cerita masa lalu, dsb. Lama mendengar perbincangan mereka saya spontan memiliki opini,
“Apakah pekerjaan merupakan hal yang paling banyak dikeluhkan setiap orang?”. Sekilas pembicaraan yang saya masih ingat kurang lebih seperti ini :
"Duh, emang bos gue parah banget, masa tiap hari saya disuruh lembur, mana gajinya masih belom naek-naek juga lagi!"
“Gaji gua gede sih, tapi tetep aja ga punya waktu buat keluarga.”
“Omzet perusahaan naek tapi tetep bonusnya sedikit banget!”
… dsb lagi
Ada satu kesempatan dimana saya akhirnya hanya iseng-iseng saja menanyakan pengalaman dari pedagang kopi tersebut perihal usaha kedai kopi yang dirintisnya sejak masih muda, “Dulu malah bapak berjualan kopi keliling, Alhamdulillah sekarang sudah punya warung tenda seperti ini”, ungkap bapak penjual kopi tersebut. Sejenak saya berpikir, hal ini seolah-olah manusia yang selalu merasa tidak terpuaskan dalam mencari materi atau mengenai pilihan hidup dalam mencari rezeki layaknya memilih peran sebagai kepala cicak atau hanya sebagai ekor buaya? Maksud dari majas ini adalah sebagai perumpamaan seseorang yang memilih sebagai karyawan di sebuah perusahaan atau pemilik usaha, dimana meskipun kepala cicak itu ukurannya kecil tetapi berperan sebagai penentu arah hidup, dibandingkan sebagai ekor buaya yang meskipun berukuran besar tetapi tetap saja posisinya selalu mengikuti arah kepala (hanya mengikuti orang lain saja).
Lanjut saya bertanya kepada pemilik kedai kopi yang ternyata memiliki pandangan agama yang baik, beliau mengatakan semuanya tentang bagaimana kita mensyukuri apa yang kita kerjakan saat ini. “Kalau kita bersyukur, pasti nikmat dari Allah akan selalu ditambah dek. Jangan takut rezeki itu datangnya dari Allah, dan pilihan sebagai seorang pedagang memang bapak pilih karena bapak yakin, Allah memberikan kemuliaan dari pekerjaan ini”. Subhanallah, sejak hari itu saya mulai sering membuka banyak literatur tentang kemualiaan menjalankan usaha sampai dengan sekarang ini. Seraya mempertanyakan dalam diri seperti apa kemuliaan yang diberikan oleh Allah SWT.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa menjalankan bisnis merupakan amaliyah yang memiliki banyak keutamaan. Begitu besar keutamaan bisnis ini, Allah SWT menggambarkan tentang manusia yang menjalankan usaha atau bisnis dengan keutamaan kehidupan di akhirat, seperti dalam ayat :
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan (bisnis) yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. As-Shaf : 10 – 13)
Selain keutamaan binsis sebagaimana dalam gambaran di atas, ternyata bisnis memiliki keutamaan-keutaman lain, diantaranya adalah :

1. Bisnis adalah pekerjaan yang paling mulia.

Dalam hadits diriwayatkan :
Dari Hani' bin Nayar bin Amru ra berkata, bahwa Nabi Muhammad SAW ditanya mengenai pekerjaan yang paling mulia. Beliau menjawab, 'Jual beli (bisnis) yang mabrur (sesuai syariat dan tidak mengandung unsur tipuan dan dosa) dan pekerjaan yang dilakukan seseorang dengan kedua tangannya." (HR. Ahmad)
2.    Cara mencari rizki dengan berbisnis merupakan cara yang mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda;
Dari Hakim bin Hizam ra, dari Nabi Muhammad SAW bersabda; "Penjual dan pembeli keduanya bebas memilih selagi keduanya belum berpisah. Maka jika keduanya jujur dan saling menjelaskan dengan benar, maka akan diberkahi pada bisnis keduanya. Namun jika menyembunyikan cacat dan dusta, maka terhapuslah keberkahan jual beli tersebut. (HR. Bukhari – Muslim)
3.    Pelaku bisnis yang jujur dan amanah akan dikumpulkan kelak di akhirat bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada'. Sedang mereka semua di akhirat tidak memiliki tempat melainkan di surga. Dalam Hadits, Rasulullah SAW bersabda :
Dari Abu Sa'id ra, dari Nabi Muhammad SAW bersabda, "Seorang pebisnis yang jujur lagi amanah, maka ia akan bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada'. (HR. Turmudzi)
4. Banyak ulama yang mengatakan, bahwa orang yang berbisnis lebih dapat mengatur waktu dan kehidupannya secara baik. Seperti lebih dapat meluangkan waktu untuk berda'wah, dapat lebih luang berkontribusi untuk umat, dsb. Oleh karenanya tidak heran jika ulama-ulama besar mereka juga adalah pengusaha besar. Sebut saja nama Imam Malik, Imam Al-Khattabi, dan salah satu sahabat nabi yang dijamin masuk surga seperti Abdurrahman bin Auf.

Terkadang kita meninggalkan mata air yang penuh dengan potensi diri untuk lebih berkembang. Untuk itu, apapun pekerjaan yang kita lakukan saat ini, beberapa seruan Al-Quran dan Hadits diatas dapat memotivasi kita kembali untuk selalu mencoba memulai bisnis sejak dini.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons
//*[@id="myGallery"]/a[1]