Minggu, 16 Desember 2012

Kepala Cicak dan Ekor Buaya




Kurang lebih sekitar tiga tahun lalu (2009), Suatu ketika sambil menunggu hujan saya mampir di warung kopi dan berkerumun dengan beberapa orang yang baru pulang bekerja. Seperti biasanya kalau bersilaturahim dengan teman-teman dekat atau dengan yang sejawat, biasanya selalu membicarakan mengenai aktivitas apa saja yang digeluti, lanjut ke cerita masa lalu, dsb. Lama mendengar perbincangan mereka saya spontan memiliki opini,
“Apakah pekerjaan merupakan hal yang paling banyak dikeluhkan setiap orang?”. Sekilas pembicaraan yang saya masih ingat kurang lebih seperti ini :
"Duh, emang bos gue parah banget, masa tiap hari saya disuruh lembur, mana gajinya masih belom naek-naek juga lagi!"
“Gaji gua gede sih, tapi tetep aja ga punya waktu buat keluarga.”
“Omzet perusahaan naek tapi tetep bonusnya sedikit banget!”
… dsb lagi
Ada satu kesempatan dimana saya akhirnya hanya iseng-iseng saja menanyakan pengalaman dari pedagang kopi tersebut perihal usaha kedai kopi yang dirintisnya sejak masih muda, “Dulu malah bapak berjualan kopi keliling, Alhamdulillah sekarang sudah punya warung tenda seperti ini”, ungkap bapak penjual kopi tersebut. Sejenak saya berpikir, hal ini seolah-olah manusia yang selalu merasa tidak terpuaskan dalam mencari materi atau mengenai pilihan hidup dalam mencari rezeki layaknya memilih peran sebagai kepala cicak atau hanya sebagai ekor buaya? Maksud dari majas ini adalah sebagai perumpamaan seseorang yang memilih sebagai karyawan di sebuah perusahaan atau pemilik usaha, dimana meskipun kepala cicak itu ukurannya kecil tetapi berperan sebagai penentu arah hidup, dibandingkan sebagai ekor buaya yang meskipun berukuran besar tetapi tetap saja posisinya selalu mengikuti arah kepala (hanya mengikuti orang lain saja).
Lanjut saya bertanya kepada pemilik kedai kopi yang ternyata memiliki pandangan agama yang baik, beliau mengatakan semuanya tentang bagaimana kita mensyukuri apa yang kita kerjakan saat ini. “Kalau kita bersyukur, pasti nikmat dari Allah akan selalu ditambah dek. Jangan takut rezeki itu datangnya dari Allah, dan pilihan sebagai seorang pedagang memang bapak pilih karena bapak yakin, Allah memberikan kemuliaan dari pekerjaan ini”. Subhanallah, sejak hari itu saya mulai sering membuka banyak literatur tentang kemualiaan menjalankan usaha sampai dengan sekarang ini. Seraya mempertanyakan dalam diri seperti apa kemuliaan yang diberikan oleh Allah SWT.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa menjalankan bisnis merupakan amaliyah yang memiliki banyak keutamaan. Begitu besar keutamaan bisnis ini, Allah SWT menggambarkan tentang manusia yang menjalankan usaha atau bisnis dengan keutamaan kehidupan di akhirat, seperti dalam ayat :
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan (bisnis) yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. As-Shaf : 10 – 13)
Selain keutamaan binsis sebagaimana dalam gambaran di atas, ternyata bisnis memiliki keutamaan-keutaman lain, diantaranya adalah :

1. Bisnis adalah pekerjaan yang paling mulia.

Dalam hadits diriwayatkan :
Dari Hani' bin Nayar bin Amru ra berkata, bahwa Nabi Muhammad SAW ditanya mengenai pekerjaan yang paling mulia. Beliau menjawab, 'Jual beli (bisnis) yang mabrur (sesuai syariat dan tidak mengandung unsur tipuan dan dosa) dan pekerjaan yang dilakukan seseorang dengan kedua tangannya." (HR. Ahmad)
2.    Cara mencari rizki dengan berbisnis merupakan cara yang mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda;
Dari Hakim bin Hizam ra, dari Nabi Muhammad SAW bersabda; "Penjual dan pembeli keduanya bebas memilih selagi keduanya belum berpisah. Maka jika keduanya jujur dan saling menjelaskan dengan benar, maka akan diberkahi pada bisnis keduanya. Namun jika menyembunyikan cacat dan dusta, maka terhapuslah keberkahan jual beli tersebut. (HR. Bukhari – Muslim)
3.    Pelaku bisnis yang jujur dan amanah akan dikumpulkan kelak di akhirat bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada'. Sedang mereka semua di akhirat tidak memiliki tempat melainkan di surga. Dalam Hadits, Rasulullah SAW bersabda :
Dari Abu Sa'id ra, dari Nabi Muhammad SAW bersabda, "Seorang pebisnis yang jujur lagi amanah, maka ia akan bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada'. (HR. Turmudzi)
4. Banyak ulama yang mengatakan, bahwa orang yang berbisnis lebih dapat mengatur waktu dan kehidupannya secara baik. Seperti lebih dapat meluangkan waktu untuk berda'wah, dapat lebih luang berkontribusi untuk umat, dsb. Oleh karenanya tidak heran jika ulama-ulama besar mereka juga adalah pengusaha besar. Sebut saja nama Imam Malik, Imam Al-Khattabi, dan salah satu sahabat nabi yang dijamin masuk surga seperti Abdurrahman bin Auf.

Terkadang kita meninggalkan mata air yang penuh dengan potensi diri untuk lebih berkembang. Untuk itu, apapun pekerjaan yang kita lakukan saat ini, beberapa seruan Al-Quran dan Hadits diatas dapat memotivasi kita kembali untuk selalu mencoba memulai bisnis sejak dini.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons
//*[@id="myGallery"]/a[1]