|
Menjalankan kegiatan bisnis tidak
pernah sepi dari tantangan dan hambatan. Termasuk hari ini. Baik menyangkut
masalah permodalan, sumberdaya manusia, pemasaran maupun perijinan. Tapi bagi
pebisnis muslim kiranya tantangan terbesar adalah bagaimana menjalankan
bisnis dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam di tengah-tengah
suasana bisnis dalam sistem kapitalistik yang menghalalkan segala cara.
Tentu saja jalan belum tertutup sama sekali. Bahkan masih cukup banyak
peluang terbuka bagi pebisnis muslim yang mencoba untuk sukses tanpa harus
melanggar syariah. Pun termasuk saat bisnis agak redup.
Sesungguhnya setelah
kesulitan itu ada kemudahan (QS. Alam Nasyrah :
6)
Muslimpreneur, saat kinerja bisnis
kita menurun, seringkali kita tidak melakukan muhasabah atau koreksi mendalam
sebagaimana yang seharusnya. Boleh jadi, tanpa disadari, kita malah sibuk
mencari helah pembenar atau bahkan dalih pembalik fakta. Akhirnya, kita
malah melindungi kegagalan dengan ‘keberhasilan semu’, bukan malah memperbaikinya.
Kita terjebak pada kesombongan. Sesuatu yang malah akan menjadi titik
kejatuhan.
Seperti anekdot yang ditulis oleh
Bonnie Triyana, seorang sejarawan-cum-wartawan di salah satu media ibukota,
Januari 2009 lalu. Ia menuliskan “syahdan, dalam suatu pertemuan arkeolog
internasional, arkeolog amerika melaporkan bahwa mereka telah menggali lubang
sedalam 3 meter dan menemukan serat tembaga di dalam galian. Atas penemuan
itu, mereka mengklaim bahwa sejak 350 tahun lalu penduduk asli amerika
telah menggunakan telepon… Sementara itu arkeolog israel mengklaim telah
menemukan pecahan gelas di dalam lubang sedalam 4 meter di dekat Tepi Barat,
dan berdasarkan temuan yang mirip dengan serat optik itu, mereka menyimpulkan
bahwa 400 tahun yang lalu orang yahudi sudah menggunakan internet. Arkeolog
Indonesia tak mau kalah. Mereka melaporkan telah menggali tanah sedalam lima
meter di Trowulan dan tidak menemukan apa-apa. Maka, disimpulkan bahwa 500
tahun yang lalu Gadjah Mada sudah menggunakan handphone.”
Tulisan Bonnie sebenarnya
diarahkan untuk menganalisis iklan politik klaim keberhasilan pembangunan
oleh pemerintah. Namun, anekdot ini juga dapat dimaknai dengan interpretasi
lain. Intinya, sindiran ini agaknya mengingatkan bahwa kita lebih suka
melihat dan bangga atas klaim capaian hasil yang positif – sekalipun tak
sepenuhnya positif – ketimbang berintrospeksi atas sejumlah capaian negatif -
kalau tak mau disebut kegagalan.
Maka, saat kinerja bisnis turun
atau ada tanda-tanda menurun, kita mesti sabar dan segera muhasabah apa yang
sebenarnya terjadi hingga didapatkan faktor-faktor penyebabnya. Boleh
jadi, ada di faktor reputasi yang tercoreng karena delivery time yang
tak lagi tepat. Bisa juga karakter bisnis yang kita bangun cenderung instan,
rentan akan gangguan. Mungkin juga kita tidak konsentrasi di bisnis yang kita
kuasai, sementara belum pernah terdengar kisah sukses pengusaha yang berada
dalam bidang yang tidak dikuasainya sama sekali. Atau, boleh jadi, bisnis
kita berada di tengah kerumunan begitu banyaknya pemain sejenis, hingga makin
hari makin sulit bernafas. Atau juga, kita terlalu fokus pada modal uang,
sementara, modal keahlian, jaringan, nama baik, penguasan teknologi,
pengetahuan mengenai pasar tidak kita kuasai.
Dari situlah kemudian, kita bisa
susun solusinya secara tepat. Lalu, mainkan program aksinya. Rumusnya, tetap
harus ada (1) motivasi bisnis untuk meraih bisnis penuh ‘berkat’ dan berkah,
(2) doa ‘sapu jagat’ agar bisnis kita membahagiakan kita di dunia dan akhirat
nanti, (3) ikhtiar perbaikan dan improvisasi tiada henti karena bisnis tidak
stagnan tapi terus dituntut untuk lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi,
serta (4) tawakkal yang kita letakkan di depan, di tengah dan di akhir proses
bisnis kita.
Tetap semangat !
|


08.17
Unknown

0 komentar:
Posting Komentar